Portal Intranet Arfadia | News | Portal Intranet Arfadia

News

Penggantian Pimpinan Divisi SDM Bank Sumut Disesalkan

03 Oct 2014, 08:56  Oleh Admin Arfadia

Penggantian Pimpinan Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) PT Bank Sumut, Bahrein Siagian, secara mendadak disesalkan berbagai pihak. Sebab, penggantian tersebut dinilai dilakukan tanpa prosedur yang jelas. Seperti diberitakan sebelumnya, Bahrein Siagian saat ini dipindahtugaskan sebagai pemimpin cabang di Panyabungan terhitung mulai akhir Februari 2014.Anggota DPRD Sumut Rahmat P Hasibuan kepada wartawan di Medan, Minggu (16/3) mengatakan, dirinya khawatir penggantian secara mendadak tersebut akan berulang terjadi terhadap sekitar 3.000-an karyawan Bank Sumut yang selama ini telah terbiasa dan memahami sistem mutasi, promosi maupun demosi berdasarkan prosedur.Rahmat mengatakan, peristiwa itu juga menimbulkan keresahan di internal bank
tersebut. Mutasi yang sekaligus demosi ini bermula pada 28 Februari 2014 dimana jajaran direksi bank itu menerbitkan Surat Keputusan (SK) terhadap Bahrein H Siagian, yakni dari Posisi Pindiv SDM dengan jenjang kepangkatan dari grade 14 menjadi Pemimpin Cabang Panyabungan dengan kepangkatan Grade 11 atau turun 3 grade.
Bahrein H Siagian dalam SK itu disebutkan telah membocorkan data kepegawaian calon direksi yangg sedang dipermasalahkan banyak pihak, melakukan sosialisasi pengangkatan Tenaga Kerja Alih Daya (TKAD)/outsourcing menjadi pegawai tetap tanpa izin direksi, memberikan sanksi ringan kepada pelaku fraud dan mempromosikan pejabat yang bermasalah hingga tuduhan menggugat Bank Indonesia.
Namun keempat tuduhan yang dikenakan tersebut terkesan mengada-ada karena tidak dilakukan melalui prosedur pemeriksaan sesuai ketentuan internal dan tanpa alasan kuat untuk membuktikan kebenaran atas tuduhan tersebut, sehingga cenderung bersifat fitnah.
Banyak pihak termasuk Serikat Pekerja Bank Sumut (SPBS) menyesalkan tindakan tersebut yang dinilai melakukan kesewenang-wenangan dengan sengaja menabrak rambu-rambu hukum, GCG dan prosedur yang berlaku di Bank Sumut.
Rahmat mengakui ada beberapa kejanggalan dalam keputusan tersebut. Seperti terbitnya SK Direksi tentang mutasi itu tidak diketahui dari mana asalnya karena tanpa melalui usulan divisi yang seharusnya membuat SK tersebut, dan tanpa ada paraf pejabat yang berwenang sehingga dinilai menyalahi prosedur yang melanggar prinsip transparency dan responsibility dalam GCG.
Kemudian, tindakan demosi itu tidak sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku. Sebab demosi dilakukan tanpa didahului pemeriksaan dan pembuktikan kebenaran atas pelanggaran yang dilakukan Bahrein, sehingga cenderung melanggar asas praduga tak bersalah serta melanggar prinsip transparency dan fairness dalam GCG. Keputusan direksi tersebut juga tanpa disertai penjelasan level hukuman mengapa Bahrein diturunkan kepangkatannya hingga 3 grade.
Prosedur demosi tersebut dicurigai bernuansa politis untuk menyingkirkan Bahrein yang selama ini terkenal vokal menolak masuknya direksi baru Bank Sumut dari luar tanpa prosedur yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. Bahrein H Siagian sebagai salah satu anggota Komite Remunerasi dan Nominasi (KRN) selalu berusaha agar pemilihan direksi Bank Sumut sesuai prosedur BI dan calon-calonnya diutamakan berasal dari pejabat eksekutif internal Bank Sumut setingkat pemimpin divisi atau pemimpin cabang yang berkualitas, memenuhi syarat dimana jumlahnya cukup banyak di Bank Sumut. Selain itu, Rahmat juga menemukan berbagai kejanggalan lainnya.Sementara Irwan Rusli, praktisi hukum, mengatakan, peristiwa seperti yang dialami Bahrein itu bisa saja terjadi terhadap pegawai Bank Sumut lainnya.
"Tindakan tersebut merupakan rekayasa untuk melakukan "pembersihan" terhadap para pejabat atau pegawai yang tidak disenangi oleh dewan komisaris maupun direksi yang baru karena alasan yang tidak jelas," jelasnya. Irwan Rusli meminta agar pihak berwenang seperti BI atau OJK dapat turun tangan melakukan pemeriksaan atas tindakan tersebut. (hisar hasibuan)